Ken Arok

Print
Category: Features
Published Date Written by Ki Pandan Alas

Rabu 29 Januari 2014 ketika pulang dari Malang ke Surabaya, saya mampir di Singosari. Sebenarnya karena penasaran. Kerajaan Singosari Tumapel itu dimana sih? Padahal legendanya sangat jelas dalam catatan sejarah. Selain itu juga kuat melekat dalam memori ingatan. Hampir semua orang Jawa yang sudah senior mengenal siapa itu Ken Arok. Dan saya yakin setiap pemerhati sejarah, mesti tertarik kisahnya. Selain itu para sepuh yang dulunya penggemar SH.Mintardja mesti tahu, paling tidak mengenalk sedikit-sedikit. Apalagi yang membaca serial Langit diatas Singasari. Tokohnya Mahisa Agni, masih ingat kan?

Siang itu, mobil yang saya tumpangi menyelusuri jalan Malang-Surabaya, dan kemudian memasuki wilayah bekas kerajaan Singosari. Saya berbelok ke arah kolam renang Ken Dedes. Baru berjalan beberapa ratus meter di sebelah kiri kanan jalan 2 arca Dwarapala yang besar. Arca itu besar dan tinggi. Tingginya hampir 4 meter. Konon itu adalah arca Dwarapala terbesar di seluruh Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Yang disebelah kiri mepet ke jalan hanya dibatasi pagar berteralis besi dan tampak agak kurang terawat. Yang di sebelah kanan lebih terawat, malah ada taman didepan dan sekelilingnya.

Dwarapala adalah patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha, berbentuk manusia atau monster. Biasanya digambarkan sebagai makhluk yang menyeramkan.. Biasanya Dwarapala diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat didalamnya.

Dwarapala bentuknya berperawakan gemuk dan digambarkan dalam posisi tubuh setengah berlutut, menggenggam senjata gada.

 

CANDI SINGOSARI

Terpisah hampir 700 meter dari lokasi Dwarapala, ada sebuah candi yaitu Candi Singosari. Candi Singasari terletak di Desa Candi Renggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Jaraknya, kurang lebih 9 Km dari kota Malang menuju ke arah Surabaya. Candi ini juga dikenal dengan nama Candi Cungkup atau Candi Menara. Nama yang menunjukkan bahwa Candi Singasari adalah candi yang tertinggi pada masanya, paling tidak dibandingkan dengan candi lain di sekelilingnya. Akan tetapi, saat ini di kawasan Singasari hanya candi Singasari yang masih tersisa, sedangkan candi lainnya telah lenyap tak berbekas.

Candi Singasari diperkirakan didirikan sekitar tahun 1300 M, sebagai persembahan untuk menghormati Raja Kertanegara dari Singasari. Candi Singasari juga merupakan candi Syiwa, karena ada beberapa arca Syiwa di halaman candi.

Nama Singasari dan Tumapel, selalu berkaitan dengan nama Ken Arok. Pada masa yang perjuangan ke tampuk puncak kekuasaan benar-benar penuh penuh intrik, tipu daya dan kekuatan dan menggunakan berbagai cara untuk meraih kekuasaan.

 

Kita refresh lagi ya. Alkisah Ken Arok adalah anak Ken Ndok seorang wanita Desa Panawijen dengan seorang Brahmana bernama Gajahpara. Setelah dilahirkan, bayi Ken Arok dibuang ibunya di kuburan, kemudian ditemukan dan dibawa pulang oleh seorang pencuri ulung bernama Lembong. Dari ayah angkatnya Ken Arok belajar siasat berjudi, mencuri dan merampok. Setelah dewasa ia dikenal sebagai perampok yang sangat ditakuti di wilayah Tumapel.

Ken Arok atau Ken Angrok lahir tahun 1182 dan wafat tahun 1247, adalah pendiri Kerajaan Tumapel yang kemudian terkenal dengan nama Singhasari. Memerintah dari tahun 1222 sd 1247. Nama Arok diduga berasal dari kata rok yang artinya "berkelahi". Tokoh Ken Arok memang dikisahkan nakal dan gemar berkelahi.

 

FROM ZERO TO HERO

Pada suatu hari Ken Arok bertemu dengan Lohgawe, seorang brahmana yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya. Lohgawe lalu menasehatinya untruk meninggalkan dunia hitam. Dan atas dorongan Lohgawe pula Ken Arok berhenti menjadi perampok, lalu mengabdikan diri sebagai prajurit Tumapel.

Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu di Tumapel, wilayah Kerajaan Kediri. Sang Akuwu memperistri Ken Dedes, putri Mpu Purwa dari Panawijen. Dari perkawinan itu, lahirlah Anusapati.

Pada suatu hari, Ken Dedes pulang ke Panawijen untuk menjenguk ayahnya. Ketika Ken Dedes turun dari kereta kerajaan, bertiuplah angin kencang yang menyingkap bagian bawah kain panjangnya. Kebetulan Ken Arok yang bertugas mengawal kereta, sempat melihat sekilas betis Ken Dedes istri Tunggul Ametung tersebut. Entah mengapa, di mata Ken Arok betis Ken Dedes seakan memancarkan sinar yang menyilaukan. Pemandangan tersebut tidak mau hilang dari benak Ken Arok.

Kemudian Ken Arok menanyakan hal itu kepada Mpu Purwa. Sang Mpu menjelaskan bahwa sinar yang dilihat Ken Arok merupakan pertanda bahwa Ken Dedes adalah seorang Nawiswari dan kelak ditakdirkan sebagai wanita yang akan menurunkan raja-raja di Pulau Jawa. Mendengar hal itu, diam-diam Ken Arok ingin mengambil Ken Dedes sebagai isterinya. Sudah tentu dia harus menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung terlebih dahulu.

Menyadari bahwa Akuwu adalah orang yang sakti, Ken Arok kemudian memesan sebuah keris kepada Mpu Gandring, agar membuat sebuah keris yang ampuh. Ternyata untuk membuat keris yang ampuh, Mpu Gandring membutuhkan waktu cukup lama. Dan keris yang dipesan Ken Arok tidak kunjung selesai.

Akibatnya Ken Arok menjadi sangat marah, dan ingin segera mewujudkan keinginannya memperisteri Ken Dedes. Dia lalu merebut keris yang belum selesai tersebut, lalu menikamkannya ke pembuatnya. Menjelang ajalnya, Mpu Gandring mengutuk bahwa Ken Arok pun akan mati di ujung keris yang sama. Dan keris itu akan meminta korban tujuh nyawa, termasuk keturunan Ken Arok kelak.

Ken Arok kemudian meminjamkan keris buatan Mpu Gandring kepada Kebo Ijo temannya yang suka pamer. Kebo Ijo memamerkan keris itu kepada teman-teman prajuritnya, bahkan dengan bangga mengatakan bahwa bahwa keris itu adalah miliknya.

Setelah banyak orang yang mengetahui keris itu milik itu adalah milik Kebo Ijo, Ken Arok lalu mencuri keris itu dan menggunakannya untuk menikam Tunggul Ametung. Ketika penduduk heboh dengan kematian Tunggul Ametung, tuduhan jatuh kepada kebo Ijo.

Ken Arok kemudian membunuh Kebo Ijo. Dan karena dianggap pahlawan, maka Ken Arok diangkat sebagai Akuwu Tumapel menggantikan Tunggul Ametung. Kemudian Ken Arok menikahi Ken Dedes.

 

KUTUKAN MPU GANDRING

Setelah berhasil menjadi Akuwu, Ken Arok kemudian menaklukkan Kerajaan Kediri, yang ketika itu diperintah oleh Raja Kertajaya. Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singasari. Ia menobatkan dirinya menjadi raja Singasari yang pertama, dengan gelar Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi.

Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok berputera seorang, bernama Mahisa Wongateleng. Sedangkan dengan isterinya yang lain Ken Umang, Ken Arok  juga mendapatkan seorang putra, bernama Tohjaya.

Kutukan Mpu Gandring mulai berlaku. Ken Arok dibunuh oleh anak tirinya Anusapati anak dari Tunggul Ametung. Anusapati kemudian menggantikan kedudukannya menjadi Raja. Kemudian ketika Tohjaya sudah dewasa dia tahu bahwa yang membunuh ayahandanya adalah Anusapati. Tohjaya lalu membunuh Anusapati, dan menggantikan kedudukan sebagai raja. Kutukan Mpu Gandring terus terjadi. Tohjaya juga dibunuh oleh Ranggawuni, anak Anusapati.

Ranggawuni kemudian dinobatkan sebagai raja dengan gelar Jayawisnuwardhana dan memerintah Singasari mulai tahun 1227 sampai dengan 1268. Jayawisnuwardhana digantikan oleh putranya, Joko Dolog yang kemudian bergelar Kertanegara (1268-1292).

Kertanegara adalah Raja Singasari yang terakhir. Pemerintahannya ditumbangkan oleh Raja Kediri, Jayakatwang. Namun Jayakatwang berhasil dikalahkan oleh menantu Kertanegara yang bernama Raden Wijaya.

Raden Wijaya inilah yang mendirikan kerajaan Majapahit dengan pusat pemerintahan di desa Tarik (Trowulan sekarang). Raden Wijaya adalah keturunan Mahisa Wongateleng anak dari Ken Arok dengan Ken Dedes. Jadi ramalan Mpu Purwa benar-benar terjadi. Semua keturunan Ken Dedes menjadi raja di Jawa.

 

PENUTUP

Saya selalu menggunakan kisah Ken Arok ini sebagai ilustrasi, bagaimana seorang mesti maju dan mengejar cita-citanya. Segala cara dan usaha dilakukan dengan konsisten dan penuh semangat dan percaya diri. Terlepas dari caranya yang vulgar dan bertentangan dengan hukum, yang jelas orang dapat mengambil manfaat dari segi positifnya.

Orang-orang yang ingin maju mesti mengambil hikmah dari kisah ini. Bagaimana perjuangan seorang perampok, yang akhirnya menjadi Raja Besar di Jawa.

Ken Arok hanyalah anak dari seorang Ken Ndok perempuan biasa dengan seorang bangsawan yang dipercaya sebagai titisan Dewa Brahma, tetapi dia benar-benar orang istimewa. Ken Arok memiliki keberanian dan kecerdasan istimewa, sehingga mampu mengantarkan dirinya sebagai raja besar. Salah satu keturunannya menjadi pendiri Majapahit : Raden Wijaya.

Motivator Ken Arok adalah Resi Lohgawe yang memberi nasehat, agar keluar dari dunia hitam dan memilih pekerjaan yang sesuai untuk meraih cita-cita. Bagaimana pun hebatnya seseorang, ternyata masih selalu membutuhkan seseorang yang mirip Lohgawe, yang mampu menunjukkan arah yang harus ditempuh menuju gerbang keberhasilan.

Semoga menjadi renungan bersama …

Comments   

 
0 #3 clash of clans app 2015-06-19 21:43
Many thanks for going right through the difficulty of enlightening moms and dads relating to this game.


Have a look at my web site - clash of clans app parent review: http://annuaire-rose.fr
Quote
 
 
0 #2 Zombies Division 2015-06-01 07:21
When attacking someone ___ TH levels below yourself.... you will find a ___ penalty placed
on the maximum amount of resources it is possible to steal.


Here is my homepage Zombies Division est un mélange provoquant la dépendance de la planification stratégique et concurrentiels discussions au rythme rapide.: http://telechargerfarcry4.fr/
Quote
 
 
0 #1 clash of clans 2015-05-28 00:41
fantastic put up, very informative. I wonder why the opposite specialists of this sector do not notice this.

You must proceed your writing. I'm confident, you've a great readers' base
already!

Here is my homepage; clash of clans guide th8: http://telechargerfarcry4.fr
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Sunday the 18th. http://www.herulegowo.com. Joomla 3.0 templates. All rights reserved.