Ground Handling

Print
Category: Airports
Published Date Written by Heru Legowo

Bayangkan ketika anda duduk di seat suatu penerbangan. Suara pramugari yang empuk dan ramah mengumumkan anda akan segera terbang menuju ke bandara tujuan. Lalu dia mengingatkan untuk mengenakan sabuk kursi, mematikan telepon genggam dan bersiap untuk tinggal landas. Semua terasa mudah, lancar dan nyaman. Pesawat pun bergerak meninggalkan tempat parkirnya. Jika anda perhatikan dari balik jendela anda akan melihat petugas dengan rompi kuning kehijauan melambaikan tangan ke captain pilot di cockpit. Petugas itu biasanya juga melambaikan safety pin, yang berfungsi untuk mengunci roda depan pesawat.

Lambaian safety pin bukan hal biasa, karena itu sebagai tanda semua urusan pelayanan darat sudah selesai dilakukan dengan baik. Lalu sebentar kemudian anda merasakan sedikit guncangan roda pesawat yang semula berjalan perlahan-lahan menjadi semakin cepat meninggalkan tempat parkirnya, menuju ke landasan untuk tinggal landas.

Semua kemudahan dan kenyamanan yang anda rasakan di seat pesawat, tidak terjadi begitu saja. Itu sebenarnya salah satunya adalah hasil akumulasi kegiatan pelayanan darat atau ground handling. Begitu banyak kegiatan yang dilakukan ketika pesawat di darat, baik pelayanan kepada penumpang dan barang bawaannya, juga cargo muatan udara. Ketiganya mesti dilakukan secara serentak, simultan dengan akurasi yang tinggi.

Saya mencoba mengulas sedikit mengenai pelayanan darat atau ground handling ini ini dengan mengambil contoh pelayanan ground handling PT. Gapura Angkasa di Bandara Soekarno-Hatta. Ulasan ini berdasarkan proses pelayanan darat yang dikerjakan oleh PT. Gapura Angkasa, anak perusahaan dari PT. Garuda Indonesia, PT. Angkasa Pura II dan PT. Angkasa Pura Airport.

Proses Pelayanan Darat

Pelayanan penumpang yang berangkat dimulai dari check-in, menentukan boarding lounge, passengers profiling, mengawasi dan memastikan bahwa pemegang tiket adalah yang berangkat bukan digunakan orang lain, kemudian membawa penumpang ke pesawat dengan bus apron. Selanjutnya diatas pesawat memastikan bahwa jumlah penumpang sesuai dengan manifest dan tidak ada yang salah naik pesawat.

Secara bersamaan pelayanan bagasi dilakukan sejak dari menimbang dan memberi label bagasi, memastikan kembali tidak ada barang berbahaya yang dimasukkan kedalam bagasi, mengelompokkan bagasi (baggage make up) untuk dimuat pada pesawat tertentu, memuat bagasi pada gerobak, dan membawa bagasi ke pesawat. Selanjutnya memasukkan bagasi kedalam perut pesawat sesuai dengan load plan yang disiapkan oleh load master.

Dalam membuat load plan tidak sederhana. Prosesnya diawali dari prinsip-prinsip weight and balance, dengan memperhitungkan berat serta prosedur keseimbangan tertentu. Hal ini untuk memastikan pesawat terbang tidak kelebihan beban dan seimbang, sehingga akan terbang dengan stabil, aman dan nyaman. Load master harus memastikan bahwa bagasi sudah ditempatkan sesuai dengan alokasinya di kompartemen bagasi di perut pesawat.

Jika ada muatan dalam bentuk cargo, maka cargo lebih awal ditarik dari gudang agar tidak mengganggu proses pelayanan penumpang dan bagasi tersebut diatas. Lalu cargo mesti dimuat sesuai alokasi waktu dan kompartemen yang sudah ditentukan oleh load master. Semua itu mesti dilakukan cermat dalam menyesuaikan dengan muatan bagasi, sehingga proses bongkarnya di bandara tujuan lebih mudah dan cepat.

Pada proses kedatangan pesawat, maka operasi pelayanan darat dilakukan sejak penumpang turun dari pesawat sampai dengan bagasi diterima di conveyor belt. Proses ini juga dilakukan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kendala yang mesti diatasi pada proses kedatangan adalah : penuhnya parkir pesawat, letak parkir pesawat yang tersebar dan yang jauh dari terminal. Petugas ground handling sudah pasti berusaha keras untuk selalu memenuhi target tersebut. Sudah pasti ada beberapa yang tidak sesuai dengan standar dalam pelayanan ini, misalnya oleh sebab sesuatu hal, bus apron dapat saja terlambat datang. Ini biasanya karena utilisasinya yang sangat tinggi, terutama pada jam-jam sibuk. Sedangkan untuk penanganan bagasi, toleransinya untuk kesalahan pelayanan sangat ketat. Hanya boleh terjadi kesalahan bagasi 3 dari 1000 bagasi yang dilayani.

Operasi ground handling didukung berbagai macam jenis peralatan darat yang disebut sebagai Ground Support Equipment (GSE). Untuk melayani 1 pesawat baik narrow body maupun wide body diperlukan lebih dari 19 alat baik itu yang bermotor maupun yang tanpa motor. Adapun jenis dan jumlah GSE tersebut tampak seperti pada tabel disebelah ini. Jumlahnya cukup banyak dan harus dioperasikan pada suatu saat secara bersama-sama dan simultan.

Ground  Time

Setiap penyedia jasa ground handling terikat kontrak dengan airline yang dilayani dalam bentuk Service Level Agreement (SLA) yang mengacu kepada Standard Ground Handling Agreement (SGHA). Untuk waktu pelayanan di darat (ground time) pesawat narrow body, adalah 45 menit, sedangkan untuk pesawat wide body 60 menit. Khusus untuk airline dari Middle East, ground time-nya 120 menit.

Dengan uraian diatas, mudah-mudahan anda mulai dapat membayangkan bagaimana sibuknya pelayanan darat di Bandara Soekarno-Hatta. Untuk sekedar gambaran saja secara rata-rata Gapura melayani 200 pesawat setiap hari, 185 diantaranya adalah pesawat Garuda. Pada jam-jam puncak, Gapura harus melayani lebih dari 30 pesawat dalam satu jam.

Sebenarnya jumlah pesawat yang banyak tidak begitu masalah. Petugas darat cukup terlatih dan cekatan untuk menangani hal tersebut. Yang menjadi masalah adalah pada waktu terjadi beberapa pesawat sekaligus pada waktu tertentu yang lazim disebut sebagai clash handling. Pada waktu clash handling itu pelayanan darat membutuhkan jumlah orang dan peralatan yang harus tersedia dan mencukupi. Apalagi Gapura praktis harus beroperasi 24 jam dalam sehari di CGK.

Clash Handling

Salah satu hal yang menjadi perhatian utama para pengelola jasa ground handling adalah apa yang disebut sebagai clash handling. Istilah itu menggambarkan beberapa pesawat yang harus secara bersamaan dilayani dalam satu jam, baik pesawat yang akan berangkat maupun yang baru saja tiba dan memasuki tempat parkir atau parking stand-nya. Pergerakan pesawat yang bersamaan ini sudah pasti membutuhkan petugas dan peralatan yang lebih banyak dari pada jika melayani jumlah yang sama tetapi waktunya tersebar tidak pada suatu waktu secara bersamaan. Di Bandara Soekarno-Hatta, pada jam-jam tertentu yang disebut sebagai jam puncak atau peak hour, ada lebih 30 pesawat datang dan berangkat secara bersamaan yang harus dilayani dalam satu jam.

Anda bayangkan jika pada jam sibuk, dalam satu jam ada 30 pesawat berarti secara rata-rata setiap 2 menit ada 1 pesawat baik datang dan berangkat yang harus dilayani. Jika masing-masing pesawat membawa rata-rata 100 penumpang, maka pada jam sibuk setiap penumpang dilayani rata-rata dalam 1,2 detik. Luar biasa! Inilah yang membuat pada saat clash handling pengelola ground handling kuwalahan mengerjakan tugasnya.

Untuk tetap menjaga pelayanan dan memuaskan penumpang, mau tidak mau pengelola ground handling mesti mengerahkan semua sumber dayanya pada jam-jam sibuk seperti itu. Semua mesti dikerjakan dengan cepat, lancar, aman dan memenuhi standar safety yang sudah baku.

Airport layout

Semua bandara memiliki karakteristiknya masing-masing sesuai dengan master plan ketika dibangun. Bandara terbesar sudah pasti adalah Bandara Soekarno-Hatta, yang sering disebut sebagai Cengkareng (CGK). Pada tahun 1986 ketika pertama kali dibangun, bandara ini diproyeksikan untuk melayani 20 juta penumpang per tahun. Sekarang ini CGK sudah melayani lebih dari 62 juta penumpang per tahun. Tiga kali lebih banyak dari kapasitasnya ketika pertama kali dibangun. Ini menempatkan CGK menjadi bandara tersibuk ke 9 di dunia! Sudah pasti penambahan jumlah penumpang yang melebihi kapasitasnya, mempengaruhi juga pelayanannya.

Itulah mengapa sekarang Manajemen Bandara Soekarno-Hatta sedang sibuk membangun dan menyiapkan Terminal 3, untuk mengantisipasi melonjaknya jumlah penumpang. Untuk mengantisipasi penambahan jumlah pesawat yang parkir, maka apron tambahan di depan Terminal 3 sudah digunakan. Jarak parking stand terjauh di apron ini ke baggage claim area (tempat bagasi diturunkan untuk diserahkan kepada penumpang), lebih dari 2,5 km!

Ini salah satu yang membuat pelayanan ground handling ikut terpengaruh. Traktor penarik bagasi (Baggage Towing Tractor = BTT) harus bekerja keras dan menempuh jarak yang jauh, untuk melayani pesawat yang diparkir di apron T3 (remote apron) ini. Belum lagi jika rangkaian gerobak bagasi yang ditarik BTT, harus menunggu ketika ada pesawat yang sedang bergerak di apron. Ini membuat waktu tempuh penarikan bagasi menjadi semakin lama. Jika ini terjadi, akan berakibat waktu penyerahan bagasi yang lebih lama daripada yang seharusnya. Hal inilah yang sering menimbulkan complain dari penumpang mengenai terlambatnya waktu penyerahan bagasi. Sebuah konsekuensi yang logis. Jumlah penumpang yang bertambah banyak dan fasilitas bandara yang belum bertambah tentu saja pada gilirannya akan mempengaruhi juga pelayanan ground handling.

Akhirnya, mudah-mudahan uraian tersebut dapat sekedar memberi gambaran bagaimana pelayanan darat dilakukan. Ada ratusan orang di sana, di lapangan setiap hari. Mereka tidak mengenal siang atau malam, tetap bekerja ditengah panas terik, juga di saat hujan deras, mereka tetap disana bekerja untuk memenuhi kontrak yang tertuang dalam SLA dan menjaga pelayanannya kepada anda sebagai pengguna jasa terakhir.

Dan sekarang ... pesawat anda bersiap untuk tinggal landas di ujung landasan pacu. Dari jauh anda memperhatikan gedung terminal dan apron yang selalu sibuk menyiapkan penerbangan. Lalu perlahan-lahan pilot mendorong throttle dan mesin pesawat mulai menggeram. Anda duduk nyaman di pesawat, dan semuanya lancar dan beres. Ditengah-tengah kenyamanan anda, sesungguhnya dibawah sana ada ratusan orang yang bekerja, untuk membuat anda menikmati perjalanan udara yang cepat, aman dan nyaman.

Selamat terbang bapak & ibu ...

Rabu, 26 Ags 2015
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Comments   

 
0 #2 FirstEddy 2017-11-09 06:59
I have noticed you don't monetize your website, don't waste your
traffic, you can earn additional cash every month because you've got high quality content.
If you want to know how to make extra $$$, search
for: Boorfe's tips best adsense alternative
Quote
 
 
0 #1 alyssasfeet.soup.io 2017-05-12 14:13
Right here is the perfect webpage for everyone who wants to understand this
topic. You realize a whole lot its almost tough to argue with you (not that I actually will need to?HaHa).

You definitely put a brand new spin on a subject that's been written about for a long time.
Great stuff, just wonderful!
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Sunday the 18th. http://www.herulegowo.com. Joomla 3.0 templates. All rights reserved.