GOA SAFARWADI

Oleh : Ki Pandan Alas

Tanggal 17 dan 18 Desember yang lalu, saya sempat berziarah ke Suryalaya dan ke Pamijahan. Sudah lama berencana kesini, baru kali ini terjadi. Suryalaya adalah tempat makamnya Pangersa Abah Anom (1915-2011), Mursyid Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah.

Dan Pamijahan adalah makam dari Syekh Abdul Muhyi (1650-1730), Mursyid Syattariyah. Kedua tempat berada di wilayah Tasikmalaya dan terpisah dengan jarak sekitar 150 km.

Pintu Masuk Goa Safarwadi

Di Pamijahan saya sempat napak tilas, dan masuk ke dalam Gua Safarwadi. Gua yang menjadi tempat uzlah dan khalwat dari Syekh Abdul Muhyi. Gua itu dicari dan ditemukan oleh Syekh Abdul Muhyi berdasarkan petunjuk dari gurunya di Aceh, Syaikh Abdur Rauf as-Singkili.

Alkisah, setelah pulang belajar dan mengaji dari Mekkah, Syekh Addul Muhyi diperintahkan untuk mencari sebuah goa, tempat di mana Syekh Abdul Qodir Jailani mendapatkan ilmu dari Imam Sanusi.

Peta lokasi Goa Safarwadi

Tidak mudah proses untuk menemukan gua ini. Indikasi atau petunjuknya adalah, jika jumlah bulir padi yang ditanam, sama dengan bulir padi yang dipanen, disitulah letak gua yang dimaksud oleh gurunya itu.

Syekh Abdul Muhyi mencoba menemukan goa itu, dengan melakukan percobaan penanaman padi. Setelah berpindah di beberapa tempat antara lain: di desa Dharma Kuningan, Pameungpeuk dan Lebaksiuh, baru lokasi goa itu ditemukan.

Goa itu diberi nama Safarwadi. Safar berarti perjalanan dan Wadi artinya sumber air. Goa Safarwadi memiliki panjang 284 m lebarnya 25 meter, di tengahnya ada air yang mengalir, mungkin karena musim hujan. Ditengah “jalan” itulah para pengunjung berjalan menyusuri goa. Mesti harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.

Saya cukup beruntung bisa masuk, dan mengeksplorasi goa itu. Dan karena itulah dalam rombongan saya yang keluar paling akhir, dari goa Safarwadi.

Ada beberapa ceruk lorong-lorong yang bercabang, hanya saja tidak semua bisa dimasuki, barangkali karena rumit dan juga tidak cukup penerangan. Memasuki goa harus membawa lampu senter atau petromaks. Untung ada yang menyediakan jasa petromax dengan imbalan tertentu.

Seperti kebanyakan gua, pintu masuk dan keluarnya sempit, tetapi didalamnya cukup luas. Permukaan goa tidak rata. Kanan kirinya ada semacam gundukan bebatuan, ditengahnya ada jalan setapak lebarnya sekitar 50 cm. Disitulah para pengunjung goa Safarwadi berjalan.

Tempat khalwat Syekh Abdul Muhyi

Agak di tengah goa, ada ceruk yang lebih tinggi dan datar. Konon di situlah Syekh Abdul Muhyi melakukan uzlah dan khalwat.

Di bagian lain di bagian lain ada ceruk dan berlubang. Salah satu yang berlubang, ditutup dengan teralis besi. Konon katanya itu adalah lubang untuk perjalanan ke Mekkah, ke Banten dan ke Cirebon. Lubang itu sebagai pintu keluar dan masuk, para wali ketika mengadakan pertemuan dan pembicaraan.

Sekarang pintu itu dipasangi teralis untuk menjaga jangan sampai ada yang mencoba masuk, karena sempit dan yang masuk pasti tidak akan bisa keluar lagi. Berbahaya.

Pintu masuk ke Mekkah, di pasang teralis agar tidak ada yang mencoba masuk

Ada juga yang dinamakan Jabal Kopyah. Konon ada 9 lubang Jabal Kopyah, sama dengan jumah wali. Jika orang dapat memasukkan kepalanya dan pas dengan lubang itu, berarti dia akan dapat naik Haji. Itu salah satu mitos dari Goa Safarwadi. Saya tidak mencoba semua lubang itu, tetapi ada 2 atau 3 lubang  yang terasa pas dengan ukuran kepala saya.

Di bagian lain, ada air yang menetes dari atas atap gua. Dan itu dipercaya sebagai Air Kehidupan. Beberapa orang menampung airnya dengan botol plastik utuk dibawa pulang.

Ketika berada ditengah goa, terasa gerah dan pengap karena udara tipis jauh dari pintu goa dan tidak cukup banyak mencapai tengah goa. Basah kuyup karena gerah dan berkeringat, saya antri untuk dapat melihat pintu ke Mekkah. Gelap sekali. Oleh sebab itu, saya minta tolong yang membawa petromax untuk menerangi pintu itu. Lalu saya memotretnya.

Di dekat pintu keluar ada Air Kejayaan ada semacam kolam kecil yang berisi air dan beberapa orang memasukkan air tersebut ke dalam botol-botol dan banyak yang membawa pulang sebagai kenang-kenangan atau dijadikan sarana untuk ritual.

Lokasi Air Kejayaan di dekat pintu keluar

Akhirnya saya pun mencapai pintu keluar. Terasa lega bernafas. Saya memandang pintu keluar Goa Safarwadi, sambil membayangkan. Betapa dahulu Syekh Abdul Muhyi sekitar tahun 1700-an berada disitu. Berarti waktu itu adalah sejaman dengan Raja Mataram, Amangkurat II.

Lalu saya melangkah turun. Konon pada ziarah spiritual, sebenarnya seseorang itu “dipanggil” oleh alam spiritual untuk datang. Dan bukan semata-mata karena niat sendiri. Barangkali begitu ya?

Kemayoran : KPA, 21 Des 2022