RASA & GURU

Ki Pandan Alas

Butuh ilmu dan kesadaran tinggi yang telah mengendap, untuk dapat merasakan rasa. Kok begitu? Sebab jika masih berada pada tataran di bawah dan belum berusaha naik ke peringkat yang lebih tinggi. Pada tataran yang belum memahami dan mengerti sesuatu dengan lebih dalam, manusia sulit atau tidak bisa melihat keindahan. Contohnya?

Ibarat kupu-kupu yang indah. Dia melayang dan terbang menghinggapi bunga-bunga yang indah dan menghisap sari madunya. Mereka yang melihat pun dapat merasakan keindahan yang ditampakkan antara bunga dan kupu-kupu. Dan ada banyak perenungan bagi mereka yang sempat memperhatikan dengan cermat.

Kondisi yang berbeda, ketika kupu-kupu itu masih berupa ulat. Yang dikerjakan ulat bukan menikmati keindahan. Lho? Ulat justru merusak keindahan. Memakan daun-daunan, yang membuat tumbuhan mati dan tidak menumbuhkan bunga. Tananam yang semestinya berbunga indah itu, menjadi mati dimakan ulat.

Dalam proses dari ulat menjadi kupu-kupu, membutuhkan pengorbanan. Butuh ilmu, kesadaran dan juga guru. Tidak semua ulat mampu menjadi kupu-kupu. Dalam proses dan perjalanannya ada yang mati, ada yang sempat menjadi kepompong, tapi juga mati. Gagal menjadi kupu-kupu!

Proses metamorfosa selalu melewat pengorbanan dan penderitaan yang tidak mudah. Sebelum menjadi kupu-kupu, ulat memasuki tahap menjadi kepompong. Membungkus diri dalam waktu yang cukup lama. Lalu menutup diri dari segala sesuatu yang berada di luar dirinya.

Barangkali itulah cara Allah mengajarkan dan memberi metafora kepada manusia. Selalu butuh proses tertentu, untuk meningkat ke level yang lebih tinggi.

Dan manusia pun melakukan “mesu” diri, menyingkir dari keramaian, menyendiri dan “bertapa”! Para wali dan aulia Allah, melakukan uzlah dan khalwat. Beliau-beliau menyisihkan waktu, menutup diri, mengambil jarak dan menyingkir dari dunia! Berkonsentrasi penuh, menyisihkan urusan dunia untuk sepenuhnya untuk mendekat dan bermunajad kepada Allah.

Perubahan menjadi kupu-kupu itu butuh pengorbanan yang tidak biasa, dan juga penderitaan. Perlu disadari bahwa perubahan fundamental itu juga butuh “guru”. Seorang mursyid.

Seorang yang mampu menunjukkan cara dan arah yang benar. Jika tidak ada tuntutan, bisa tersesat jalan. Guru ini adalah kategori terakhir dari empat jenis Guru, yaitu : Guru Hidup, Guru Kitab Suci, Guru Simbolik dan Guru Rahasia.

Akhirnya, hanya mereka yang diberi hidayah khusus, yang bisa sampai pada tahap kupu-kupu dan bisa “menikmati keindahan.” Keindahan yang dialami kupu-kupu, tidak akan dapat dicapai atau dimengerti oleh yang masih berada dalam kategori ulat.

Bersyukur dan beruntunglah mereka yang mampu memasuki peringkat dan menjadi kupu-kupu. Mampu merasakan betapa manisnya madu dan indahnya bunga-bunga. Dan yang lebih sangat penting, merasakan kehadiran Allah pada setiap detik dari sisi kehidupannya.

Wallahua’lam bishshawwab …

KPA : Jumat, 11 November 2022