TRAGEDI SEPAKBOLA

Oleh : Ki Pandan Alas

Sungguh memprihatinkan tragedi sepak bola yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang tanggal 1 Oktober malam. Pada malam itu diadakan pertandingan antara Arema dan Persebaya, yang bertajuk Derby Jawa Tmur. Pertandingan sengit itu berakhir dengan skor akhir 3-2 untuk kemenangan Persebaya. Pencetak gol Persebaya Surabaya adalah Silvio Junior (8′), Leo Lelis (32′), dan Sho Yamamoto (51′). Adapun dua gol Arema dicetak oleh Abel Camara (42’dan 45’).

Sebenarnya Panita Penyelenggara sudah mengantisipasi kemungkinan kericuhan ini, dengan cara melarang an tidak memperbolehkan supporter Persebaya ikut menonton pertandingan ini.

Supporter Arema turun ke lapangan

Setelah pertandingan, supporter Arema Malang yang merasa tidak puas, turun ke lapangan. Semakin lama jumahnya semakin banyak, sampai ribuan orang yang turun ke lapangan. Dan kericuhan pun tidak terhindarkan. Kericuhan semakin berkembang begitu cepat dan tidak terkendali, sehingga polisi terpaksa menembakkan gas air mata.

Barangkali akibat dari tembakan gas air mata inilah korban mulai banyak berjatuhan. Penonton dan suporter yang menghindari gas air mata, mencoba keluar dari stadion melalui pintu keluar. Ternyata pintu keluar macet. Tidak mampu mengalirkan ribuan orang yang berdesak-desakan akan keluar secara bersamaan. Jumah penonton pertandingan itu teryata melebihi kapasitas stadion. Kapasitas stadion 25 ribu, tetapi terisi sampai sebanyak sekitar 45 ribu penonton. Berarti terisi hampir dua kali kapasitasnya.

Setelah kerusuhan berahir, tercatat korban meninggal dunia sebanyak 129 orang, termasuk 2 orang anggota polisi. Kebanyakan korban meninggal karena sesak nafas dan terinjak-injak ratusan orang. Diperkirakan jumlah korban ini masih bisa bertambah lagi.

Penggunaan Gas Airmata menjadi bahan diskusi penyebab korban berjatuhan

Kematian memang bisa dimana saja dan sudah menjadi takdir Illahi. Tetapi bagaimana agar kemtian yang tampaknya sia-sia ini ini tidak terjadi lagi?

Panitia mesti bertanggung- jawab dan juga para pihak lain yang terlibat. Banyak sebab yang timbul dari munculnya beberapa pertanyaan. Mengapa penonton bisa masuk melebihi kapasitas stadion? Mengapa polisi menggunakan gas air mata? Padahal di stadion yang tertutup, penonton yang terkena gas airmata tidak bisa keluar dari stadion? Juga mengapa penonton bisa masuk lapangan dengan mudah? Beberapa pertanyaan itu menunjukkan tragedi Kanjuruhan adalah akumulasi dari kesalahan dari beberapa pihak.

Dan jika ditelusuri lagi itu adalah wujud dari budaya masyarakat yang tidak taat aturan dan tidak bisa disiplin. Juga barangkali itu juga akumulasi dari budaya masyarakat yang tidak dapat menerima kekalahan dan mengakui kelebihan orang lain. Ketika kalah, bukannya pasrah dan mengaku kalah. Malah menjadi marah! Dan marah dalam jumlah banyak, selalu mengakibatkan musibah!

Tragedi ini sungguh tidak main-main korban begitu sangat banyak. Sungguh mengerikan! Tragedi ini membuat Indonesia naik peringkat, menjadi negara no 2 tragedi sepakbola terburuk di dunia. Peringkat pertama terjadi 24 Mei 1964 di Estadio Nacional di Lima Peru. Supporter yang kalah mengamuk dan polisi melakukan tindakan represif. Korban tercatat 328 orang meninggal.

Dan apaboleh buat ini menjadi stigma bagi dunia persepak-bolaan Indonesia. Apalagi Indonesia akan menjadi tuan rumah Pertandingan Sepak Bola Dunia U-2O, yang rencananya akan diadakan pada tanggal 20 Mei sd 11 Juni tahun 2023. Ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia dipercaya sebagai penyelenggara kejuaraan dunia. Dan Maskot Piala Dunia U-20 juga sudah ditentukan adalah Bacuya, akronim dari Badak Cula Cahaya.

Sungguh ini sangat memprihatinkan! Kejadian dan tragedi Malang ini telah mencoreng kredibilitas dan sistem sepakbola Indonesia. Semoga saja stigma dapat diminimalisir dan menjadi pemicu untuk memperbaiki sistem sepakbola Indonesia  lebih baik lagi.

Indonesia naik peringkat menjadi nomor dua insiden tragedi Sepak Bola Dunia

Sebenarnya sepakbola Indonesia tengah menunjukkan kinerja yang semakin baik. Dalam beberapa pertandingan internasional Indonesia mampu menunjukkan kualitas permainan yang semakin baik, Bahkan Tim Bola Indonesia dibawah pelatih utama Sin Tae Yong, semakin  gemerlap. Namun sungguh saying, ditengah-tengah keberhasilan ini, telah terjadi stigma yang mencoreng kredibilitas persepak-bolaan Indonesia.

Akhirnya, mesti harus ada upaya yang sistemik untuk mengatasi masalah ini.  Indonesia mesti meninjau dan memperbaiki lagi sistem pertandingan kompetisi Liga Sepakbola. Dan pasti banyak masalah yang berada dalam ranah ini. Oleh sebab itu, seyogyanya semua pihak yang terlibat dapat ikut memberi kontribusi positif, untuk perbaikan di masa mendatang. Mudah-mudahan …  

Indonesia berduka sangat mendalam atas tragedi Kanjuruhan ini.

Kemayoran : 2 Oktober 2022

KPA