MENGISI KEMERDEKAAN

Sang Saka Merah Putih

Merdekaaaa…!!! Sekali merdeka, tetap merdeka! Pekik kemerdekaan itu dulu mampu menggelorakan semangat bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari penjajah. Dengan berjalannya waktu, pekik kemerdekaan itu bermakna lebih luas lagi. Kita mesti memberi makna, yang sesuai dengan masanya.

Merdeka itu “freedom” bermakna bebas. Dulu bebas dari penjajahan. Sekarang, bebas dari “apa saja yang menekan” dan dari “sesuatu yang membuat tidak bebas.” Yang paling mudah adalah bebas dari tekanan finansial dan bebas dari kekurangan sumber daya, juga bebas dari cara berpikir.

sesungguhnya merdeka pada saat ini dapat beragam maknanya. Termasuk bebas dari masalah finansial. Bagaimana agar bangsa ini tidak punya masalah dengan finansial. Artinya punya dana yang mencukupi, untuk membuat rakyat tidak menderita. Dan itu sebetulnya perwujudan dari “masyarakat yang adil dan makmur.”

Pembawa baki bendera pusaka I Dewa Ayu Firstly

Untuk menuju ke situ kita butuh merdeka di banyak bidang. Salah satunya di bidang literasi. Tidak lagi ada yang buta huruf, kurang pendidikan atau tertinggal. Literasi sekarang malah sudah berubah menjadi literasi digital. Mungkin kita mulai tertinggal di bidang ini.

Oleh karena itu kita berjuang agar merdeka dari kebutaan digital. Dan itu menjadi kewajiban kita untuk berusaha dan mengejar, ketertinggalan, sehingga kita bisa bebas dan merdeka dari keterbelakangan digital.

Jadi merdeka pun telah berevolusi berubah bentuk! Bukan lagi merdeka dari penjajahan, tetapi merdeka dari bermacam hal yang membuat kita merdeka.  Merdeka dan tidak lagi tertekan oleh sebab dan kondisi tertentu. Ini mudah diucapkan tetapi susah diwujudkan.

Kita harus tetap mengandalkan semangat yang sama ketika dulu mengejar kemerdekaan : “Bhinneka Tunggal Ika.” Walaupun berbeda-beda tetapi kita tetap satu. Marilah terus bersatu padu, menjaga komitmen dari para pendiri bangsa, untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Presiden dengan 68 anggota Paskibraka

Mulai menyingkirkan perbedaan dan mencari persamaan. Berusaha tetap bersatu untuk mencapai tujuan bersama. Jangan lagi hanya ribut, bentrok antar sesama, kemudian terlupa tujuan yang sebenarnya masyarakat adil dan makmur.

Seperti Ki Dalang ketika medar antawacana tentang kemakmuran suatu negeri : “Panjang punjung, pasir wukir loh jinawi, gemah ripah, tata tentrem kerta raharja, tuwuh kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku.”

Akhirnya … semoga Allah senantiasa meridhai bangsa dan negara Indonesia, dalam mewujudkan negara yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.” Negeri yang alamnya indah, tanahnya subur, rakyatnya makmur dan pandai bersyukur …

Aamiin …

Merdekaaa … !!!

Kemayoran, 17 Agustus 2022

Heru Legowo