Bandara Baru Kediri

Lokasi Bandar Udara Baru Kediri

Bandar Udara Baru Kediri dengan senyap terus berusaha untuk mewujudkan dirinya agar benar-benar menjadi sebuah bandara yang beroperasi secara penuh. Bandara yang dimiliki dan diinisiasi oleh Perusahaan Rokok yang sangat masyhur PT. Gudang Garam ini sudah sampai pada tahap penyiapan lahan. Berlokasi sekitar 15 km dari Kota Kediri, bandara baru ini membutuhkan sekitar 460 hektar dan tinggal beberapa hektar lagi yang dalam proses pembebasan lahan.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan bahkan sudah meninjau Lokasi Bandara Baru Kediri pada tanggal 26 April 2021. Beliau mengharapkan agar pada pertengahan tahun 2023, bandara baru ini dapat diresmikan dan digunakan. Sebelumnya pada tanggal 15 April 2021 sudah dilakukan ground breaking walaupun secara virtual, karena pandemi Covid-19.

Biaya yang direncanakan seluruhnya adalah sebesar Rp. 10 Trilyun. Dan sudah keluar biaya sebesar lebih dari Rp. 5 Trilyun. Pembangunan bandara dikerjakan oleh anak perusahaan Gudang Garam, PT. Surya Dhoho Investama (SDHI). Panjang landasan pacu semula direncanakan semula hanya 2.400X45 M, tetapi sekarang menjadi 3.330X45 M. Dan landasan sepanjang itu akan mampu melayani pesawat widebody sampai dengan Boeing B-777.

Tanpa bermaksud menghambat atau memberi komentar bernada miring, seyogyanya pemerintah dan kita semua memetik pelajaran dari beberapa bandara baru yang tidak optimal. Kita melihat bahwa Bandara Inernasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Bandara Jenderal Soedirman-Purbalingga, Bandara Ngloram-Cepu, dan bandara lainnya, yang sampai sekarang tidak dapat beroperasi secara normal. Bukan karena masalah infrastrukturnya, tetapi karena demand-nya yang menurun, perlahan-lahan menurun, dan menghilang bahkan menjadi tidak ada. Sebabnya karena bergeser ke moda transportasi yang lain.

Gambar desain Bandar Udaea Baru Kediri

Demand shifting

Pemerintah memberi prioritas untuk menyiapkan infrastruktur, termasuk transportasi. Jalan tol dibangun dimana-mana, rel kereta api dibuat dua jalur, bahkan kereta api cepat juga sedang dibangun juga. Semuanya dimaksudkan untuk memperlancar roda perekonomian.

Alhamdulillah sudah mulai menunjukkan hasilnya. Perjalanan menjadi begitu mudah, cepat dan lancar. Jika bermobil dari Jakarta ke Semarang, hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 jam. Cepat dan efisien. Begitu juga jika menggunakan kereta api. Pembangunan rel dua jalur, sangat memperlancar lalu lintas kereta api. Sekarag tidak perlu lama-lama menunggu di stasiun tertentu, hanya untuk menunggu dan bergantian menggunakan jalur kereta api. Cepat dan lancar.

Kemudian, timbul masalah lain. Para pengguna jasa transportasi kemudian saling bergeser. Mereka menggunakan moda transportasi masing-masing, sesuai keinginan dan kemampuannya membeli tiket. Moda transportasi udara yang semula menjadi pilihan untuk perjalanan yang cepat dan nyaman, perlahan-lahan mulai mendapat pesaing dari kereta api dan jalan tol.

Sekarang jika naik kereta dan naik mobil melalui tol, khusus di Jawa (maaf), ternyata juga relatif nyaman dan cepat. Melalui udara memang cepat, tetapi perjalanan ke bandara dan ke luar bandara butuh waktu juga. Belum lagi jika faktor keterlambatan diperhitungkan. Waktu tempuhnya menjadi kurang lebih, kira-kira sama saja.

Pendek kata, demand-nya bergeser. Dan masing-masing moda transportasi dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, mengalami kenyataan ini. Dan harus menghadapi pergeseran demand ini, kemudian mengantisipasinya dengan cermat.

Penandatangan Nota Kesepahaman antara Direktur Utama PT. Angkasa Pura I Faik Fami
dengan Direktur Utama PT. Gudang Garam Istata T. Siddharta, 10 Maret 2020

Ruang Udara

Kembali ke Bandar Baru Kediri. Salah satu kendala yang cukup harus diperhitungkan adalah keberadaan ruang udaranya, yang berada dibawah ruang udara terbatas (restricted area) Lanuma Iswahyudi. Dengan begitu tidak semua pesawat bebas keluar dan masuk ke Bandar Udara Kediri. Semua pergerakan pesawat keluar dari dan masuk ke Bandara Kediri, harus dalam kontrol, pengawasan dan dibatasi sepenuhnya oleh Lanuma Iswahjudi. Sebabnya wilayah udara Lanuma Iswahjudi adalah untuk latihan pesawat tempur TNI-AU, dimana gerakan dan manuvernya sangat aktif, atraktif dan tanpa batas. Dari atas permukaan tanah, sampai dengan ketinggian 60 ribu kaki.

Jika ada pesawat udara sipil yang memasuki wilayah udara Madiun, dan kebetulan ada manuver latihan pesawat militer; maka itu suatu kondisi yang sungguh sangat berbahaya. Sebab gerakan pesawat militer itu sangat dinamis bisa naik turun sangat drastis dan bergerak sangat bebas, sesuai manuver yang dilatihkannya. Jika kebetulan berimpit atau memotong jalur penerbangan pesawat sipil, akan sangat riskan, dan menimbulkan kerawanan yang tinggi.

Yang terakhir ini sungguh sesuatu yang sulit dan tidak mudah. Mesti dicarikan jalan keluar yang optimal dan komprehensif. Selanjutnya hal ini sudah tentu, bakal menjadi pekerjaan rumah bagi Kementerian Perhubungan, Airnav Indonesia dan pihak TNI-AU.

Akhirnya, semoga semua masalah dan kendala pembangunan Bandar Udara Baru Kediri dapat diatasi dan pada saatnya nanti dapat diresmikan dan dapat beroperasi dengan baik, aman dan lancar. Dan memberi manfaat berlipat bagi masyarakat sekelilingnya.

Semoga …

HL : Senin, 29 Nov 2021