Lupa Tuhan & Lupa Diri

Ditengah-tengah hiruk-pikuk suasana politik yang memanas, terasa sejuk dan menenteramkan hati melihat acara Mata Najwa, dengan tema Negeri Teka-Teki. Bintang tamunya KH. Mustofa Bisyri yang akrab dipanggil Gus Mus. Seorang ulama dan juga seorang penyair. Beliau adalah ulama pertama yang meraih penghargaan Yap Thian Hien.

Mengawali acara Gus Mus membacakan puisinya Negeri Teka Teki yang ditulis pada tahun 1997 pada awal reformasi. Sudah lama, tetapi maknanya masih relevan sampai saat ini. Salah satu baitnya berbunyi : Jangan tanya apa, Jangan Tanya siapa, Jangan tanya mengapa.Tebak saja!

Ketika ditanya Najwa, bagaimana perasaannya menerima penghargaan Yap Thian Hien? Gus Mus menjawab biasa saja. Itu barangkali karena Panitianya lebay. Beliau menjelaskan, siapakah dan apalah dia itu? Seorang dari kampung belajar di kampung dan gurunya juga dari kampung. Dia hanya menerima dan menjaga pesan gurunya : “Indonesia itu rumahmu, jaga dan rawatlah!”. Oleh sebab itu, jika ada orang yang melempari rumahnya sendiri, berarti dia itu orang gila!

Najwa lalu bertanya apakah benar Panitia Yap Thian Hien lebay? Todung Mulya Lubis Ketua Yayasan Yap Thian Hien menjawab, bahwa panitia telah melakukan survey mendalam. Gus Mus memang tidak pernah mengatakan tentang HAM, tetapi semua tindakan dan perbuatannya termasuk puisi-puisinya adalah perjuangan untuk HAM. Beliau tidak banyak bicara tetapi berbuat. Menurut Todung Gus Mus adalah seorang sufi. Pemahamannya sudah diatas para pakar HAM.

Gus Mus menjelaskan bahwa dalam hidup ini ada Al Haq, yang berarti hak dan juga kewajiban. Manusia punya hak tapi punya kewajiban, jangan hanya berpikir hak, tapi pikirkan kewajibanmu terhadap hak orang lain. Orang lain mempunyai hak sebagai manusia, maka hargailah itu sebagai tanggung jawabmu!

Sebagai ulama beliau mengingatkan agar ditengah kesibukan dunia, tetaplah selalu mengingat Allah. Manusia sering lupa, dan begitu tidak tahu diri meminta Allah menuruti segala kemauannya. Padahal dia bukanlah apa-apa. Beliau membuat perbandingan. Allah begitu besar. Maha Besar. Sedangkan bumi hanya sebesar biji kacang hijau. Gus Mus membesarkan ukuran bumi menjadi sebesar kacang hijau, agar lebih nyata. Padahal sebenarnya bumi hanyalah sebutir debu di alam semesta raya ini. Di butiran debu itulah, hidup 7,5 Milyar manusia! Pemirsa diminta membayangkan sendiri perbandingan itu. Manusia bukanlah apa-apa dilihat dari berbagai macam kriteria. Tetapi manusia sering merasa dirinya begitu hebat, merasa bisa berbuat apa saja dan mampu memperoleh apa saja. Pada saat itulah, dia lupa kepada Penciptanya. Lalu dia menjadi lupa diri.

Pada akhir acara Gus Mus mengatakan bahwa seseorang yang melupakan Tuhan, akan membuat dia lupa dirinya sendiri. Dia lupa siapa dia sebenarnya. Dia, lupa sebagai apa dia. Jika orang Indonesia dia lupa sebagai orang Indonesia. Jika ulama dia lupa bahwa dia seorang ulama. Konotasinya bisa beraneka-ragam. Jika dia lupa diri, maka tindakannya akan bertentangan dengan fitrahnya sebagai khalifah Allah di dunia. Astaghfirullah 

Ditengah krisis kepemimpinan, di era semua pemimpin ingin muncul dan unggul, dengan mencela dan menjelekkan orang lain; sosok Gus Mus memberi inspirasi. Dan juga sekaligus menyejukkan. Seorang yang tidak ingin menonjol, merasa biasa saja tetapi terus berjuang dalam senyap. Bagaimana Gus Mus mengkritik tajam, dengan teduh tanpa kebencian. Dan beliau tetap dihargai karena membela warga yang dikalahkan.

Gus Mus mengatakan bahwa manusia punya hak, tetapi juga punya kewajiban. Jangan hanya berpikir dan menuntut hak, tetapi pikirkan juga kewajibanmu terhadap hak orang lain. Sebuah kalimat yang sederhana, tetapi menyentakkan kesadaran, karena sekarang orang lebih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli orang lain.

Semoga Gus Mus tetap hadir dan mencerahkan kita semua.

Selamat menyambut Idul Fitri 1439H.
Minal aidin wal faidzin.

 Kemayoran, Kamis Kiwon, 14 Juni 2018
herulegpwo@mail.com